Tuesday, June 11, 2013

PERDAGANGAN KARANG & TUDUHAN SEBAGAI PERUSAK KARANG

Saya mencoba menghimpun dari kronologis berbagai pertemuan yang membahas tentang terumbu karang. Lalu saya juga mencoba searching di internet tentang kegiatan apa saja yang telah menyebabkan terjadinya kerusakan terumbu karang.

Monday, June 10, 2013

BISAKAH PENGELOLAAN BERBASIS MASYARAKAT BERJALAN TANPA PENDAMPINGAN

BISAKAH PENGELOLAAN BERBASIS MASYARAKAT BERJALAN TANPA PENDAMPINGAN DAN DUKUNGAN YANG CUKUP DARI PIHAK TERKAIT?

PENDAHULUAN.
Ada beberapa model untuk melakukan langkah strategi untuk memenuhi kebutuhan pendampingan program tetapi hanya sedikit yang diarahkan secara spesifik untuk mempersiapkan suatu bentuk pengelolaan berbasis masyarakat dan dirancang khusus pada masyarakat sasaran. Setiap model atau perencanaan memiliki poin yang baik. Apakah model tersebut dapat berhasil atau tidak tergantung pada seberapa baik dan cocok bagi masyarakat di mana ia akan digunakan. Apakah memang didesain untuk mengambil nilai-nilai yang ada di masyarakat memang menjadi pertimbangan? Apakah pandangan masyarakat secara umum atau cara mereka memahami situasi, dipahami oleh mereka yang merancang model kebutuhan pendampingan? Apa strategi komunikasi dan cara-cara yang dilakukan dalam melibatkan anggota masyarakat yang akan berhasil? Ketika pertanyaan ini dapat dipahami dengan baik, jelas bahwa model yang dirancang khusus untuk digunakan pada masyarakat tertentu harus dikembangkan. Adalah suatu langkah yang keliru untuk menganggap bahwa cara pendekatan pada semua masyarakat adalah sama.
Secara tradisional, budaya asli di Indonesia menempatkan kesejahteraan masyarakat sebelum kesejahteraan setiap individu atau kelompok kecil. Nenek moyang kita bangga dalam berbagi sumber daya dan memastikan bahwa berbagai potensi yang ada di masyarakat ditempatkan pada posisi terdepan untuk kepentingan terbaik bagi masyarakat. Membantu orang adalah milik budaya asli kita dan dihormati oleh keragaman di antara kita
Rasulullah Saw bersabda terkait dengan penunaian hak-hak tetangga: "Barang siapa yang mengganggu tetangganya maka Allah Swt akan mengharamkan bau surga baginya." Atau pada sabdanya yang lain, "Bukan dari golongan kami orang yang melanggar hak-hak tetangganya."
Pria, wanita, dan anak-anak serta Sesepuh memiliki peran yang berbeda, tapi diperlukan untuk apa yang akan dilakukan di masyarakat. Terkadang peran akan berubah dan kadang-kadang mereka akan melakukannya secara bersama. Para anggota masyarakat dapat merasakan kepemilikan mereka dan juga dapat berkontribusi di dalamnya. Menyediakan diri untuk  membantu orang lain, adalah suatu hal yang sangat dihargai.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEBUTUHAN PENDAMPINGAN?
Sebuah kebutuhan pendampingan pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk melibatkan seluruh komponen yang ada di suatu masyarakat untuk membawa mereka dapat melihat apa yang dibutuhkan atau apa yang telah hilang dalam kehidupan mereka, lalu bekerja sama untuk memperbaiki atau meningkatkan penanganan masalah yang teridentifikasi. Sebagai pembelajaran awal untuk dapat menginspirasi, hal ini dapat kita mengambil contoh dalam bagaimana kita cara melihat rumah kita sendiri,  untuk memutuskan apa yang perlu perbaikan atau perubahan. Kemudian bagaimana anggota keluarga kita memutuskan apa yang dibutuhkan untuk melakukannya. Sebuah kebutuhan pendampingan yang dilakukan pada suatu masyarakat adalah bagaimana melibatkan masyarakat untuk melihat kemudian memutuskan apa yang dibutuhkan bagi suatu bentuk pengelolaan yang lebih baik. Sebuah kebutuhan pendampingan menawarkan gambaran tentang apa yang terjadi atau dibutuhkan dalam sebuah komunitas. Hal ini dapat dilakukan pada satu ide atau sejumlah topik yang melibatkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan.
Sebuah kebutuhan pendampingan yang tidak mengarah pada bentuk penanganan yang berbasis masyarakat adalah dalam gambaran sebagai berikut : mungkin langkah perubahannya datang dari orang luar atau kelompok dan dilakukan oleh orang atau kelompok eksternal juga. Dalam hal ini, keputusan tentang bagaimana harus menilai dan bagaimana menilainya juga dibuat oleh pihak eksternal.
Jenis kebutuhan pendampingan seperti di atas dapat saja meningkatkan kondisi masyarakat dalam waktu sesaat semasa program berjalan tetapi tidak pernah bisa disebut kebutuhan pendampingan yang dimaksudkan bagi suatu bentuk pengelolaan yang berbasis masyarakat.


APAKAH KEBUTUHAN PENDAMPINGAN BAGI BENTUK PENGELOLAAN BERBASIS
 MASYARAKAT BERBEDA?
Jadi, apa jenis kebutuhan pendampingan bagi suatu bentuk pengelolaan berbasis masyarakat?
Sebuah kebutuhan pendampingan bagi pengelolaan berbasis masyarakat membutuhkan partisipasi masyarakat pada setiap tahapannya. Gagasan untuk pendampingan masyarakat lahir dari masyarakat atau setidaknya diadopsi pada tahap awal dimana masyarakat benar-benar merasa itu adalah kebutuhan mereka. Bahkan jika stakeholder menyampaikan ide karena mereka juga menginginkan pendampingan itu dapat dilakukan dan juga dapat memberikan kontribusi, seluruh informasi yang dibutuhkan tetap bersumber dari masyarakat sebelum melanjutkan pada tahapan berikutnya. Dalam beberapa kasus, ada masyarakat lokal yang secara mandiri menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ingin diubah atau diperbaiki dan mulai berbicara tentang bagaimana untuk mewujudkannya. Dan dalam kasus seperti ini, seluruh stakeholders seyogyanya telah dapat berpartisipasi sejak tahapan awal mulai dilakukan.
Ada sejumlah cara untuk melakukan kebutuhan pendampingan bagi terealisasi suatu bentuk pengelolaan berbasis masyarakat di komunitas tertentu. Diagram berikut ini menggambarkan proses budaya terbentuk, dan bagaimana terjadinya pembentukan baru, budaya yang kuat,  yang akan berlangsung dalam waktu panjang.
Dalam ilustrasi di atas, masyarakat adalah pusat dari segala sesuatu yang dilakukan dalam kebutuhan pendampingan bagi terealisasinya bentuk pengelolaan berbasis masyarakat. Ini menunjukkan hubungan antara dua bagian utama dari kebutuhan pendampingan yakni : orang-orang yang terlibat di dalamnya dan tugas, atau pekerjaan yang perlu dilakukan.
Dalam melaksanakan kebutuhan pendampingan dalam merealisasikan suatu bentuk pengelolaan berbasis masyarakat, semua bagian akan berjalan dan berinteraksi satu sama lain. Kadang-kadang satu bagian tertentu akan lebih penting daripada yang lain, tetapi semua hal penting bagi proses dan hasilnya - dalam mengidentifikasi apa yang dibutuhkan untuk melakukan suatu perbaikan di masyarakat. Hal ini tidak sulit bagi mereka dengan pandangan holistik bila melihat hubungan antara hati dan kepala. Ini adalah hubungan antara emosi dan akal kita, seperti pernyataan seorang ahli berikut ini :
Unto itself the intellect is a sacred gift of the Creator, but equally, without an open, visionary, and creative heart, there is no wisdom. Both the mind and heart are sacred. Both are inseparably connected.
— Phil Lane Jr.
Terjemahannya : 
Secara terpisah, intelektual adalah sebuah hadiah suci dari Sang Pencipta, namun sejalan dengan itu, tanpa membukanya, memiliki visi, dan dengan hati yang kreatif, tidak akan ada hikmah darinya. Keduanya : kecerdasan (kepala) dan hati adalah hal yang suci (misterius) . Keduanya terhubung tak terpisahkan.
- Phil Lane Jr

GAMBARAN KEBUTUHAN PENDAMPINGAN DALAM PROGRAM.
Dari uraian di atas, untuk dapat lebih jelas mengetahui tentang kebutuhan pendampingan bagi terealisasi suatu bentuk pengelolaan berbasis masyarakat, kita mencoba menguraikan beberapa program yang dijalankan :
·         PROGRAM SANITASI DAN KESEHATAN MASYARAKAT.
Dalam suatu kehidupan masyarakat yang memiliki pemahaman dan kepedulian sangat rendah tentang arti pentingnya kesehatan. Kebiasaan BABS yang sudah dilakukan secara turun temurun beberapa generasi tetap saja tidak nampak ada upaya untuk menggantikannya dengan kebiasaan yang lebih baik, walaupun faktanya masyarakat desa itu dalam musim tertentu (musim hujan) seringkali terkena wabah muntaber yang mengakibatkan beberapa warganya meninggal dunia. Dalam kondisi seperti ini, ketika ada program sanitasi yang datang ke desa tersebut, tentunya tidak hanya sesederhana dalam bentuk membangunkan mereka WC/Jamban lalu berharap masyarakat akan menggunakannya dan berhenti melakukan BABS. Masyarakat membutuhkan pendampingan panjang yang berproses untuk bagaimana kebiasaan buruk itu benar-benar mereka pahami dan sungguh-sungguh juga ingin meninggalkannya, kemudian ada upaya keras mereka untuk beralih pada kebiasaan yang lebih baik. Disinilah nampak jelas tentang begitu dibutuhkannya sebuah pendampingan untuk menuju kondisi masyarakat yang mampu mengelola sendiri masalah kesehatan mereka secara keseluruhan masyarakat yang ada di desa. Ironisnya, program berjalan dalam bentuk praktis seperti di atas yang hanya membangunkan WC/Jamban di desa kemudian tidak dilanjutkan lagi dengan tahapan berikutnya, saat ini masih berjalan di  banyak tempat di Indonesia.

·         PROGRAM PENGELOLAAN PESISIR DAN KELAUTAN.
Permasalahan Pesisir dan Kelautan di Indonesia sudah demikian komplek. Panjang pantai yang begitu luas dan pulau-pulau kecil yang kosong yang begitu banyak, tentunya sangat membutuhkan suatu bentuk pengelolaan yang baik. Dan tidak dapat dipungkiri, bahwa pengelolaan itu diharapkan dapat dijalankan oleh masyarakat lokal. Namun kalau melihat realita yang ada, masih banyak sekali kesenjangan yang ada di masyarakat lokal untuk mampu mengelola sesuai dengan yang diharapkan. Hal yang tidak terbantahkan lagi, bahwa kebutuhan pendampingan panjang oleh pihak-pihak / tenaga-tenaga berpengalaman sangatlah dibutuhkan. Logikanya, bahwa harapan untuk pengelolaan berkelanjutan berbasis masyarakat itu dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Ikhtiar / upaya yang baik dan benar, insha Allah akan ada kemudahan untuk merealisasikan harapannya.

Akhirnya, semoga paparan ini telah dapat memberikan gambaran yang jelas pada kita semua untuk dapat menjawab judul di atas. Suatu pemahaman yang dapat kita jadikan sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran terhadap program-program yang telah dilaksanakan. Wallahualam

Semoga bermanfaat. (BOEN-JARI)

Tuesday, May 21, 2013

RPP SEBAGAI JALAN KELUAR BAGI PENGELOLAAN PERIKANAN, ANTARA PROSES & DOKUMEN YANG DIBUTUHKAN???


RPP SEBAGAI JALAN KELUAR BAGI PENGELOLAAN PERIKANAN, 

ANTARA PROSES & DOKUMEN YANG DIBUTUHKAN???

RPP (rencana pengelolaan perikanan) oleh sebagian orang telah dijadikan sebagai sebuah dokumen jalan keluar dari realita pengelolaan perikanan yang carut-marut di negeri ini. Walaupun dalam berbagai pertemuan kita telah sering membincangkan tentang lebih penting mana hasil dibanding dengan proses, alhasil boleh jadi pemahamannya hanya berbelok seperti memperdebatkan lebih dulu mana telur atau ayam. Sungguh merupakan sebuah perdebatan yang tidak akan berujung, karena baik pemilih telur maupun pemilih ayam, masing-masing akan bertahan dengan alasan masing-masing.
RPP memang merupakan sebuah dokumen penting untuk menjadi acuan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dalam menjalankan peran dan tanggung-jawab masing-masing pada suatu bentuk pengelolaan perikanan, tentunya untuk menuju pada suatu model perikanan yang baik, perikanan yang berkelanjutan. Namun suatu hal yang perlu juga kita pahami bersama, bahwa idealnya RPP itu jangan dipahami sebagai kebutuhan sebuah dokumen tertulis semata seperti juga yang terjadi dengan banyaknya aturan yang telah dikeluarkan Pemerintah yang awalnya diyakini adalah sebagai  sebuah dokumen yang sangat diperlukan. Ternyata dikeluarkannya aturan itu tidak juga dapat menjadi acuan yang efektif karena permasalahan yang terjadi yang menjadi alasan dikeluarkannya aturan tersebut tetap saja terjadi. Jadi proses untuk dapat tersusunnya RPP yang efektif dapat berjalan adalah juga sangat penting untuk sungguh-sungguh dan terukur untuk dilakukan.
Mengambil pembelajaran dari sebuah lokakarya Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) yang pelaksanaannya menentukan tujuannya adalah sebagai berikut ;
 (1) memperbaiki kondisi pengelolaan perikanan di lokasi tertentu melalui pembentukan kesepakatan-kesepakatan pengelolaan perikanan yang disusun dalam rencana/strategi pengelolaan perikanan.
(2) menyempurnakan Draft Rencana Pengelolaan Perikanan sebagai kerangka acuan pengelolaan perikanan di masa mendatang.
Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah :
(1) Terfokusnya arah pengelolaan perikanan di perairan lokasi tersebut yang disusun dalam Rencana Pengelolaan Perikanan yang disempurnakan, dan
(2) Tersusunnya RPP lokasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan perikanan yang bertanggungjawab.
          Kalau mengambil pembelajaran pada tujuan dan sasaran lokakarya RPP di atas, kita dapat melihat bahwa proses yang dibutuhkan untuk dilakukan adalah sebuah hal yang sangat penting dan juga bahwa dalam proses itu tidak dapat mudah ditentukan pasti hanya melalui satu pertemuan, dua pertemuan, atau pun tiga pertemuan dan seterusnya. Namun proses itu sendirilah yang akan mengajarkan seluruh stakeholders dapat memahami akan memerlukan tahapan seperti apa.
Wallahualam  

Friday, April 12, 2013

MARINE RESEARCH ECOTOURISM


Research Diving.
Researchers in oceanography and marine biology create scuba diving jobs to assist them in collecting data. This type of diver might have additional schooling that allows them to identify and collect species, make detailed habitat observations, measure current and temperature, etc. In marine science, field workers might study endangered tortoises, fish, or coral populations. In environmental science, they can work to protect ocean ecology or better understand global warming.
 There aren’t really any jobs dedicated to just conducting underwater research. Individuals working in marine science fields use their diving training to help them in their research and go further in their ability to collect data.
Work activities
-Taking pictures underwater
-Collecting species and specimens’ underwater
-Recording data based on observations underwater
-Measuring elements underwater
-Collect data for the purpose of conservation
-Performing tests in labs using the data collected
-Recording and deciphering test data

The establishment of the above  individuals will be able to get by following  the activities with JARI Foundation, the local NGO in Lombok - Indonesia. This activity will be done in the northern coast of Sumbawa Island start from Saleh Bay to northern coast of the island of Lombok. The research activity is intended for anyone who is interested in doing it, packaged in the form of ecotourism that will often connected with some local fisherman communities and stays in small islands in the area. There are some wooden boat ready to take you in a small group (maximum of 10) to explore the area with a various duration of time. 

Friday, January 11, 2013

Partai Jalan Buntu

-->
Begitu rumitnya ternyata manusia memainkan teorinya untuk tegaknya jalan menuju kondisi negeri yang mereka katakan “idaman”. Mereka beradu dalam berbagai visi dan misi bendera masing-masing. Bahkan, saat asyik mengkampanyekan tentang ide tipu-tipu itu, mereka tinggalkan amanah ilmu yang ada pada mereka masing-masing, juga lupa pada teori dari Allah SWT yang merupakan satu-satunya petunjuk yang paling haq.
Maka dengan semangat motto Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, yang kemudian dianalogkan dengan perbedaan mimpi yang berjumlah lebih dari 40 itu tapi tujuan tetap satu jua, MENANG dalam pemilihan dan duduk di kursi panas sebagai anggota Legislatif.
Selanjutnya, dalam langkah menuju dan setelah proklamasi “keunggulan” mereka masing-masing, mungkin tak satu pun dari mereka melalui media, berani dengan lantang bersuara :
“ saya bersaksi, bahwa sesungguhnya penjajahan di atas negeri ini harus dihapuskan. Tidak boleh ada lagi dan harus dibasmi bentuk penjajahan aparat polisi dan atau militer pada rakyat dalam bentuk apa pun juga”
“saya bersaksi, bahwa sesungguhnya kebiasaan berzina dan korupsi yang dilakukan para pejabat dan atau para sekutunya serta individu sehobby dalam masyarakat yang lain, jelas memberi kontribusi besar pada kerusakan negeri yang akut sehingga harus pula dibasmi dengan cara yang tegas dan keras ”
So siapa yang senang dan siapa pula yang berang???
Wallahualam.

Tuesday, December 4, 2007

COMMUNITY PARTICIPATE RESEARCH (CPR)

COMMUNITY PARTICIPATE RESEARCH (CPR)        

 IN PERCEPTIONASPIRATION.

PENDAHULUAN.                                    

Pemikiran tentang suatu keberlanjutan telah mewarnai pada banyak program yang dijalankan di dunia, tidak terkecuali negeri kita tercinta, Indonesia. Ironisnya, ketika berpikir tentang Indonesia, yang kita khawatirkan bersama adalah tentang pembelajaran yang dapat diambil dari berbagai program yang telah dijalankan selama ini, yang kemudian dapat dijadikan semacam sindiran : apakah kata keberlanjutan itu hanyalah sebuah slogan agar projeknya yang berkelanjutan, atau apakah kemiskinan masyarakat sasaran itu yang ingin dipertahankan keberlanjutannya?
Kalau melihat hasil dari sebuah pelaksanaan program, seringkali pelaksana program  terkesan menemukan hal yang significant tentang banyaknya kelompok yang telah dibentuk, luasnya status areal yang telah dikelola secara baik dan begitu banyaknya pertemuan yang telah diselenggarakan. Namun ketika melihat faktanya, kita jadi bertanya: mengapa tidak nampak ada perubahan yang significant terhadap apa yang dikatakan berkelanjutan itu?
Layaknya sebuah perdebatan tentang lebih penting mana hasil atau proses, boleh jadi adalah sebuah perdebatan yang tidak ada ujungnya apalagi bila sudah dibumbui teori akal masing-masing dan tidak mau menggunakan rujukan yang sama. Disinilah akan nampak tentang begitu pentingnya sebuah pembelajaran sesuai tuntunan yang kita ketahui “bacalah”. Pembelajaran tentang bagaimana kita semua yang berawal dari seonggok orok yang tidak berdaya apa-apa, kemudian tumbuh besar dari sebuah proses begitu banyaknya “pembelajaran”  yang terjadi.

NAMA KEGIATAN

Kegiatan ini bernama ; Community Participative Research (CPR) in Perception and Aspiration, yakni sebuah kegiatan yang mengajak pesertanya untuk belajar dan berpartisipasi aktif melakukan suatu penelitian bersama tentang suatu permasalahan yang dialaminya.  Penelitian CPR ini memberikan analisis dari faktor utama dan variabel persepsi yang dimiliki oleh masyarakat pada suatu desa / dusun dari posisi mereka dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya alam yang inklusif dan berkesinambungan. Penelitian ini dimaksudkan untuk kontekstualisasi dan membimbing identifikasi pendekatan desain yang tepat dan efektif untuk proyek yang akan datang untuk penerapan JARI dalam kemitraan dengan berbagai pihak baik Pemerintah, Perguruan Tinggi, Swasta dan LSM yang bertujuan untuk mendukung mata pencaharian yang berkelanjutan. Temuan terpilah oleh peran dari CPR akan memandu desain dan identifikasi komunitas yang tepat memimpin proyek penguatan mata pencaharian sekitar lokasi kegiatan, kemudian diidentifikasi secara lokal bagi wanita dan pria. Melalui CPR ini dimaksudkan untuk 'memulai dari mana masyarakat berada' sambil menganalisa untuk mengambil pendekatan kekuatan berbasis yang mendukung kelompok-kelompok yang ada dan hubungan di antaranya dalam memajukan pengelolaan sumber daya alam yang inklusif dan berkesinambungan. Laporan dari penelitian ini juga nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi data dasar untuk evaluasi proyek. Kegiatan CPR dilakukan pada masyarakat di seluruh lokasi program. Peserta dibagi dalam kelompok, berbagi dan dipadukan dalam beragam informasi yang berkaitan dengan persepsi mereka tentang isu-isu sumber daya alam, tanah dan kekuasaan pengambilan keputusan dan akses, harapan untuk masa depan, organisasi dan kapasitas untuk perubahan masyarakat.
Berbagai temuan penelitian muncul berkaitan dengan kompleksitas tantangan yang dihadapi masyarakat. CPR mengungkapkan bahwa ada berbagai macam isu-isu tentang perempuan dan laki-laki pada komunitas tertentu, namun juga menunjukkan beberapa masalah yang tersebar di masyarakat dan daerah.

TUJUAN PENELITIAN.

  • Mengajak para peserta untuk berpartisipasi secara aktif memberikan informasinya pada peserta lainnya.
  • Mencoba sebuah contoh model proses komunikasi yang baik untuk diterapkan dalam kelompok masyarakat.
  • Memberikan sebuah model pembelajaran terhadap suatu permasalah yang sedang dialami / sedang terjadi di masyarakat.

HASIL YANG DIHARAPKAN.

  • Data aktual dari sebuah proses yang berjalan secara nyata.’
  • Masyarakat dapat lebih menyadari tentang kondisi yang sedang mereka alami dan mau untuk memikirkan tentang solusi yang harus dilakukan serta mewujudkan harapan yang mereka butuhkan.
  • Komunikasi antar komponen yang ada di masyarakat dapat terjalin dengan baik dan dapat mencairkan kebekuan / ketidakpedulian antar sesama mereka selama ini.
  • Jalur persepsi dan aspirasi mereka akan dapat terekam secara benar.

TEHNIS PENERAPAN MODEL PENELITIAN.


GOOD
FAIR
BAD
WORSE
WORST
EXP.
PAST






NOW






FUTURE







Indicator samples:
GOOD
FAIR
BAD
WORSE
WORST






PENJELASAN :
  • Untuk mengisi masing-masing kolom di atas, kita dapat menggunakan warna atau pun tanda / simbul yang lebih dipahami oleh peserta. (lihat contoh di atas).
  • Kolom keterangan adalah bagian informasi penting yang menguatkan kolom sebelumnya. Kolom keterangan ini yang akan menjelaskan lebih luas tentang mengapa hal itu terjadi, siapa pelakunya, apa upaya yang telah dilakukan selama ini, dan apa yang harus dilakukan, serta bagaimana dan kapan.
  • Topik bahasan untuk mengisi kolom ini juga bisa bermacam-macam sesuai yang dibutuhkan, atau berganti dalam kita mencermati situasi peserta yang ada, beberapa contoh topik bahasan yang dapat dikemukakan sebagai gambaran adalah sebagai berikut :
_  Masalah kondisi lingkungan.
_  Masalah kondisi perikanan tangkap masyarakat.
_  Masalah kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat.
_  Masalah kesehatan masyarakat.
_  Masalah pendidikan.
_  Masalah kepemimpinan
_  Masalah kepemilikan lahan
_  Dan seterusnya.
  • Dalam suatu pertemuan yang terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang berbeda, maka peserta dapat dibagi dalam 3 kelompok dan masing-masing kelompok akan mendiskusikan topik yang berbeda.
  • Masing-masing kelompok kemudian akan mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan harus berusaha mempertahankan argumen kelompoknya dengan memberikan penjelasan detail, namun mereka juga harus membuka diri untuk menerima masukan dan saran bagi perbaikan informasi kelompoknya dari kelompok lain.
  • Di akhir proses pembelajaran (penelitian) ini, para peserta diwajibkan untuk dapat menuliskan aspirasi mereka dari proses diskusi tersebut. Aspirasi ini dapat dilakukan dalam bentuk :
è Menuliskannya dalam form yang sudah disiapkan.
è Menuliskannya dalam kertas metaplan yang sudah disiapkan lalu menempelkannya pada tempat yang sudah disiapkan juga;
è Memilih kertas metaplan yang sudah bertuliskan, membacanya dengan suara keras, lalu menempelkannya.
è Aspirasi ini dapat dipandu dengan beberapa pertanyaan yang akan membantu mereka :
Ø  Tindakan / kegiatan apa yang harus kita lakukan
Ø  Kapan kita akan melakukannya
Ø  Siapa yang akan melakukannya
Ø  Dimana
Ø  Mengapa
Ø  Bagaimana cara agar tindakan itu dpt terealisasi

NOTE :
  • Team fasilitator akan menganalisa hasil penelitian tersebut kemudian menyusunnya ke dalam laporan hasil penelitian.

  • Skema matrik ini dapat memberikan informasi dan pembelajaran yang banyak pada para peserta apabila mereka semua serius ingin mendapatkan pembelajaran itu. Hal itu membutuhkan untuk diawali dengan bagaimana memberikan motivasi pada mereka agar mau memberikan informasi yang diketahuinya secara benar tanpa perlu malu pada peserta lainnya atau pun takut
BOEN - JARI (JUANG LAUT LESTARI)